NUNUKAN – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Nunukan meluncurkan program inklusi yang berdampak langsung pada pemberdayaan masyarakat rentan. Bapenda Nunukan secara resmi menghadirkan seragam pakaian batik kantor terbaru yang diproduksi melalui kolaborasi istimewa dengan para penyandang disabilitas di Kabupaten Nunukan.
Program ini melibatkan siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Nunukan dalam proses pencetakan batik motif lokal yang dipadukan secara harmonis dengan Lambang Korpri, serta mempercayakan proses penjahitannya kepada pengusaha lokal penyandang disabilitas, Winda, pemilik Winda Fashion.
Karya Berdaya dari Tangan-Tangan Tangguh
Proses pembuatan seragam batik ini melalui tahapan yang penuh makna. Anak-anak penyandang disabilitas di SLB Nunukan dilibatkan langsung dalam memproduksi kain batik khas daerah. Dengan ketelitian dan semangat tinggi, mereka menggoreskan keindahan motif lokal khas Nunukan yang disandingkan secara presisi dengan Lambang Korpri sebagai simbol pengabdian aparatur negara.
Setelah kain batik selesai dicetak, proses pembuatan pakaian diserahkan sepenuhnya kepada Winda Fashion. Winda, seorang penjahit bertalenta yang juga merupakan seorang penyandang disabilitas, mengubah lembaran kain batik tersebut menjadi pakaian batik kantor yang rapi, elegan, dan siap dikenakan oleh jajaran pegawai Bapenda Nunukan.
"Kami bangga dapat mengenakan hasil karya dari saudara-saudara kita di SLB Nunukan dan Winda Fashion. Hasil jahitan dan kualitas cetak batiknya luar biasa rapi, tidak kalah dengan produk komersial lainnya," ungkap Kepala Bapenda Kabupaten Nunukan, Sabri, S.T., M.Si.
Tujuan Program Inklusi Bapenda Nunukan
Program seragam batik inklusif ini dihadirkan dengan beberapa tujuan utama yaitu :
- Mewujudkan Kesetaraan Hak dan Kesempatan dengan memberikan ruang serta kesempatan yang sama bagi para penyandang disabilitas untuk berkarya dan berkontribusi secara ekonomi.
- Pemberdayaan Ekonomi Lokal Berbasis Inklusi dengan menciptakan dampak ekonomi langsung dengan menggandeng UMKM disabilitas lokal (Winda Fashion) dan mengasah keterampilan mandiri bagi siswa-siswi SLB Nunukan.
- Menghapus Stigma dan Mengangkat Potensi dengan membuktikan kepada publik bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang berkualitas tinggi dan bernilai estetika.
- Pelestarian Budaya Lokal yaitu dengan menanamkan rasa bangga terhadap kebudayaan daerah melalui motif batik khas Nunukan yang dituangkan oleh tangan-tangan generasi muda yang berdaya.
Melalui langkah ini, Bapenda Kabupaten Nunukan berharap dapat menjadi pelopor bagi instansi atau lembaga lain di Wilayah Nunukan untuk terus mendukung gerakan inklusivitas dan pemberdayaan masyarakat disabilitas secara berkelanjutan.